Kata-kata pertama yang terpikir saat ini ialah Sunyi. Sunyi sering terkatakan sama seperti sepi. Dalam pengertian linguistik jelas kedua hal tsb jauh berbeda. Sepi adlh kondisi menarik diri dari keriuhan sdgkan sunyi adalah sebuah situasi ketersendirian yg menciptakan dirinya sendiri. Jika dalam mood yg jelek, setiap tempat yg riuh pun tampak sunyi. Malam dikatakan sunyi karena dalam hal apapun malam adalah lambang kesunyian, sekalipun meledak suar meriam. Dalam hal ini, aku merasa sunyi ditengah keramaian kota. Semua tampak datar, sama saja. Tak ada yg berbeda, namun tak ada yg sama pula. Aku terperangkap dalam dunia mitologi yg kuciptakan sendiri dimana peranku sebagai dewa merangkap manusia yg diciptakan. Konyol, tapi persepsiku akan kisah ini kian hari tak terbangunkan lagi mungkin karena kesunyian yang terlempar entah darimana ke dalam hidupku. Aku berusaha (mungkin) utk acuh, sayang sekali tdk terlalu keras usahaku. Hanya menghasilkan fantasi-fantasi lain yang kian hari menggerogoti seluruh kenyataan. Keampuhan kesadaranku menurun, aku merasa seolah terbang tanpa sayap tapi tak meninggalkan daratan. Kondisi ini membunuh kenyataan yg ada dan yg hanya bisa kulakukan adalah menunggu walaupun itu bukan langkah yg tepat sekiranya untuk beberapa saat ini adalh langkah yg baik. Aku mengharapkan dapat meriuhkan lagi entitas hidupku, tdk lantas menjadi manusia tanpa daya tawar hidup. Aku pengontrol imaji, aku sang dewa atas jalan hidupku, aku pun manusia dalam perjalanan ini. Semuanya tergantung diriku. Sadarlah wahai kau laki-laki tak berguna. Buat dirimu berguna dengan yg ada padamu. Biarlah dunia menceritakanmu sebagai keriuhan.
No comments:
Post a Comment