Setelah kupikir-pikir, etos kerja dunia ini tdk ada yg sesulit imajinasiku. Ya, jikalau perihal kesulitan, bagiku bukan datang dari luar tetapi dari dalam diri. Semenjak aku berimajinasi tentang ini-itu, aku menyudutkan kesendirianku, mematahkan kebersamaan, menindas kebebasanku. Aku mulai culas dan pandir terhadap kehidupan dan semakin hari semakin dalam. Memang tak selamanya semua indah, selalu ada dinamika tetapi dinamika tdk untuk mendatangkan kesulitan, hanya saja ia memberikan pilihan diri. Di saat itulah sebagai manusia bebas-berpikir terkadang menjatuhkan pilihan pada kesulitan. Sekarang, nampak sedikit cahaya di ujung terowongan hidupku. Memang, berjudi ialah ihwal hidup. Apakah aku yakin bahwa di ujung jalan sana adalah jalan keluar atau hanya seberkas cahaya yang masuk dari cela terowongan. Entahlah, yg pasti aku hanya harus mencari tau sendiri apa lantas cahaya di ujung sana. Aku tdk akan tau apapun jika tdk berjalan menuju kesana, aku hanya dituntun oleh kemahakuasaan utk menuju ke sana. Setelah berbagai kesulitan yg kuperbuat, aku sadar aku harus mulai berimajinasi tentang nikmatnya teh manis, renyahnya kerupuk tanpa hilang daya nalar. Aku lelah hidup dalam kebodohan dan ketidakpastian yang lagi-lagi terjadi karena aku men-daku. Hei, kuning! Dengarlah, aku akan membuatmu bercahaya, percayalah. Tinggal kamu di dunia ini yg menjadi semangat terakhirku. Aku berjuang bukan untuk membuktikan pada siapapun hanya utk diriku, bahwa aku sanggup. Doamu, kuning, Melecut-perih keringat ini. Kejauhan kita hanya angka, hati kita tak bisa terpisahkan oleh sekumpulan nilai eksata. Kutunggu kau kuning di ujung terowongan sana. Berjudilah bersamaku.
Makna Kata
Mencari keindahan dalam setiap kata. Menyelami setiap desah nafas. mensyukuri anugerah yang tak terbatas
Sunday, 10 July 2016
Jendela Johari: Mengenal Diri dan Sekitar
Kali ini, saya ingin sekali membahas tentang diri dan yg lain. Hal ini tentu menarik karena saya sendiri yakin bahwa pengenalan akan diri sendiri tdk akan pernah habis, akan selalu ada yg terbaru karena ke-diri-an bersifat dinamis. Diri berkembang dan spontan tetapi sejauh mana kita menyadari setiap perkembangan kita, mungkin tdk pernah! Kita hanya menyadari perubahan fisik, pertambahan usia serta perjalanan narasi kehidupan. Begitu pula dalam mengenal yg lain, kita lantas hanya 'percaya' pada waktu tetapi tdk benar2 mencoba mendalami. Saya lantas tertarik dengan metode lama yang bagi saya patut dicoba utk melihat diri, yg lain, yg tersembunyi dan yg tak diketahui, metode ini bernama Jendela Johari.
Saya salin dari Wikipedi. Jendela Johari adalah sebuah teknik yang diciptakan pada tahun 1955 oleh dua orang psikolog Amerika, Joseph Luft (1916–2014) dan Harrington Ingham (1914–1995),yang digunakan untuk membantu orang lebih memahami hubungan dengan diri dan orang lain yang lebih baik. Teknik ini digunakan umumnya pada kelompok self-help dan bagi perusahaan sebagai sebuah latihan heuristik.
Seperti pada gambar, secara sederhana ada 4 area yang dapat dikulik mengenai interaksi kita dengan yang lain.
1. Area terbuka: area yang semua informasi secara gamblang diketahui oleh diri dan yg lain
2. Area tersembunyi: area yang informasinya hanya diketahui diri.
3. Area buta: area yang hanya informasinya diketahui oleh yg lain, kita tdk mengetahui/tdk sadar.
4. Area tak diketahui: area yang tak diketahui oleh siapapun.
Thursday, 7 July 2016
Menunggu Kematian
Kematian adalah hal yg paling ditakuti oleh banyak orang. Bagaimana tidak, kedatangannya tanpa ada sinyal, begitu saja. Ia meninggalkan kesan jahat karena pemisahan yang terjadi antara si hidup dan si mati. Misterius! Lantas setelahnya yg hidup akan mengenang yang mati hingga roda kematian menjemput sang pengenang dan begitu seterusnya. Pernah di suatu kelas, ada yg pernah bertanya, apa gunanya hidup toh kalau ujungnya kematian yg menyapa? Lalu guru menjawab, "untuk membuat jejak! ". Ia tdk menjawab untuk memberikan interpretasi pada setiap orang dalam kelas. Sederhana sebenarnya, bahkan sangat sederhana laiknya membalik telapak tangan. Sesungguhnya sederhana keberadaan kita di dunia ini, menjadi berguna dgn segala yg ada dalam kita. Meninggalkan jejak utk dapat diikuti atau bahkan dilengkapi.
Kembali ke hal kematian, ke-tabuan yang terkandung dalam hal ini sungguh sangat menggelitik, semua yg hidup tau bahwa menunggu di ujung lorong kehidupan tetapi tetap saja ketika membicarakan hal ini, selalu ada anggapan negatif. Padahal kematian layaknya makan, minum, duduk, tidur. Bukan hal baru. Keterikatan terhadap dunia membawa manusia ke dalam corong nestapa yang mana menajiskan kematian. Sebagai pengenang, aku pun tak luput dari rasa amarah, benci serta mengutuk kematian tapi setelah terbangun-sadar aku pun 'sedikit' mengerti bahwa kematian bukanlah suatu hal yg begitu menakutkan, walau menyedihkan. Seperti dikatakan seorang filsuf Timur Tengah, Hiduplah utk kehidupan, matilah utk kematian. Takzim
Wednesday, 6 July 2016
Cinta : Takdir atau Pilihan?
Kurang lebih 4 tahun lalu pernah ada bedah buku yang temanya seperti judul di atas. Cinta: Takdir atau Pilihan? Aku lalu mengisahkan sebuah wisata pengalamanku. Toh, tak semuanya sama sehingga jawabannya pasti pun berbeda bahkan mungkin tdk memilih di antara keduanya. Atas pertimbangan itulah, aku lebih memilih pengalaman pribadi yang sebisa mgkn menguliti kejujuran, namun utk menghindari kesalahpahaman, sebaiknya tanpa nama dan tetap pada jalur reintrospeksi. Aku menjauhkan diri bukan tak percaya dengan mengesampingkan topik tentang cinta Tuhan kpd umatnya atau orangtua kpd anak, karena itu telah kita yakini bersama. Centralisasi cerita ini pada cinta dua org yang berbeda.
Sebagai manusia yg terlahir dari cinta, pastilah pergumulan akan hal ini tak pernah habis seperti memakan sebatang coklat. Ia akan menemani perjalanan kehidupan sepanjang nafas masih betah. Salah satu problematika cinta (hampir) adalah pelaku cinta bukan pada cinta itu sendiri. Apakah dengan menikah, sdh menjadi sebuah cinta? Belum. Dengan memiliki anak lantas telah mencinta? Belum. Lalu bagaimana agar dikatakan pelaku cinta. Cintailah tanpa sebab, cintailah tanpa karena. Cinta tdk memerlukan alasan, hanya tindakan. Bukan dgn tanpa alasan, ada istilah cinta itu buta karena memang itu adanya. Salah satu yg membuat aku sendiri merasa terhina sebab gaya mencintaiku ialah ketika membaca kisah cinta yg ada di china, ketika seorang pria dgn tetap tegar menjaga dan menikahi wanita yang mengindap kanker stadium akhir atau pada pria yg tetap menjaga dan menyayangi istrinya yg mengidap bipolar. Bagiku, hal demikian lah yang dapat dikatakan cinta. Tak menerima, hanya memberi.
Lantas, apakah sejak lahir kita telah "dituliskan" akan mencintai dan menikahi siapa? Atau kah kita akan menikahi siapa pun yang kita anggap tepat. Ambigu! Memilih atau dipilihkan? Semacam sebuah lelucon bagiku jika dikatakan memilih ataupun dipilih. Sebab dalam wisata pengalaman cinta, tak ada hanya takdir atau hanya memilih. Kedua hal nampaknya memegangku teguh. Sekian lama mengarungi semesta, bertemu dengan jutaan orang dan lalu menambatkan hati pada yg kukatakan tepat tdk pula berakhir baik, walau (mungkin) aku telah berusaha lakukan yg terbaik. Lalu aku beralih pada takdir. Apakah takdir yg menentukkan siapa yg bakal menemaniku mengarungi sisa nafasku? Aku pun percaya. Sekian lama setelah lama tak bersua. Akhirnya bertemu lagi. Aku punya kesempatan utk tdk memilihnya, tapi ternyata berkebalikkan. Terpisah ribuan KM lalu bertemu kembali dan memilihnya merupakan sebuah anugerah. Cinta itu dipertemukan lalu ada pilihan, go ahead or ignore!
Peranan takdir dan pilihan dalam cinta sangat besar. Sangat mungkin jika kita dipertemukan tapi tdk memberi kesempatan pada pilihan "ya". Ada pula kita memilih saja tanpa ada keyakinan takdir berperan layaknya membeli kucing di dalam karung. Bagiku, Cinta adalah Memilih yang ditakdirkan.
Love is love, just be a lover.
Tuesday, 28 June 2016
Senja di Timur
Tak dinyana bahwa hidup selalu membawamu ke dalam alurnya, bukan hanya itu hidup yg penuh misteri ini tak memberikanmu kesempatan utk melihat jelas sedetik kedepan apa yang akan terjadi. Manusia hanya diberikan suatu pengetahuan yg meliputi intuisi dan prediksi. Sebegitu rapuhnya pertahanan alami ini jika tak dibarengi dgn pengalaman yg mumpuni. Segalanya menjadi misteri begitu kita 'terlempar' ke dalam dunia. Lantas apa yg harus diperbuat agar semuanya baik-baik saja atau bahkan tampak baik? Sebagian org menghamba pada kekuatan ilahi, sebagian lagi menghamba pada perkembangan teknologi yg kian menggerus sejarah peradaban kuno. Manapun yang dipilih manusia bukan sebuah kesalahan selama berguna bagi sesama. Akupun demikian, 'terlempar' ke dalam suatu imaji dimana tak memberikan ku pilihan ya dan tidak. Aku begitu saja 'dibawa' ke dalam dunia. Adilkah? Tidak! Aku menjadi manusia yg dituntut menjadi manusia bagaimana pun caranya. Walaupun saat ini terlihat bagai kapal karam, aku yakin aku dilahirkan utk sebuah alasan. Akupun punya mimpi dan mimpi utamaku adalah kegunaanku berada di dunia utk membuatmu tersenyum. VT
Monday, 27 June 2016
Mengapa??
Seharum Sunyi
Kata-kata pertama yang terpikir saat ini ialah Sunyi. Sunyi sering terkatakan sama seperti sepi. Dalam pengertian linguistik jelas kedua hal tsb jauh berbeda. Sepi adlh kondisi menarik diri dari keriuhan sdgkan sunyi adalah sebuah situasi ketersendirian yg menciptakan dirinya sendiri. Jika dalam mood yg jelek, setiap tempat yg riuh pun tampak sunyi. Malam dikatakan sunyi karena dalam hal apapun malam adalah lambang kesunyian, sekalipun meledak suar meriam. Dalam hal ini, aku merasa sunyi ditengah keramaian kota. Semua tampak datar, sama saja. Tak ada yg berbeda, namun tak ada yg sama pula. Aku terperangkap dalam dunia mitologi yg kuciptakan sendiri dimana peranku sebagai dewa merangkap manusia yg diciptakan. Konyol, tapi persepsiku akan kisah ini kian hari tak terbangunkan lagi mungkin karena kesunyian yang terlempar entah darimana ke dalam hidupku. Aku berusaha (mungkin) utk acuh, sayang sekali tdk terlalu keras usahaku. Hanya menghasilkan fantasi-fantasi lain yang kian hari menggerogoti seluruh kenyataan. Keampuhan kesadaranku menurun, aku merasa seolah terbang tanpa sayap tapi tak meninggalkan daratan. Kondisi ini membunuh kenyataan yg ada dan yg hanya bisa kulakukan adalah menunggu walaupun itu bukan langkah yg tepat sekiranya untuk beberapa saat ini adalh langkah yg baik. Aku mengharapkan dapat meriuhkan lagi entitas hidupku, tdk lantas menjadi manusia tanpa daya tawar hidup. Aku pengontrol imaji, aku sang dewa atas jalan hidupku, aku pun manusia dalam perjalanan ini. Semuanya tergantung diriku. Sadarlah wahai kau laki-laki tak berguna. Buat dirimu berguna dengan yg ada padamu. Biarlah dunia menceritakanmu sebagai keriuhan.
