Tuesday, 28 June 2016

Senja di Timur

Tak dinyana bahwa hidup selalu membawamu ke dalam alurnya, bukan hanya itu hidup yg penuh misteri ini tak memberikanmu kesempatan utk melihat jelas sedetik kedepan apa yang akan terjadi. Manusia hanya diberikan suatu pengetahuan yg meliputi intuisi dan prediksi. Sebegitu rapuhnya pertahanan alami ini jika tak dibarengi dgn pengalaman yg mumpuni. Segalanya menjadi misteri begitu kita 'terlempar' ke dalam dunia. Lantas apa yg harus diperbuat agar semuanya baik-baik saja atau bahkan tampak baik? Sebagian org menghamba pada kekuatan ilahi, sebagian lagi menghamba pada perkembangan teknologi yg kian menggerus sejarah peradaban kuno. Manapun yang dipilih manusia bukan sebuah kesalahan selama berguna bagi sesama. Akupun demikian, 'terlempar' ke dalam suatu imaji dimana tak memberikan ku pilihan ya dan tidak. Aku begitu saja 'dibawa' ke dalam dunia. Adilkah? Tidak! Aku menjadi manusia yg dituntut menjadi manusia bagaimana pun caranya. Walaupun saat ini terlihat bagai kapal karam, aku yakin aku dilahirkan utk sebuah alasan. Akupun punya mimpi dan mimpi utamaku adalah kegunaanku berada di dunia utk membuatmu tersenyum. VT

Monday, 27 June 2016

Mengapa??

Mengapa??? Pertanyaan mengapa merujuk pada alasan. Alasan yg menjelaskan tentang hukum kausalitas. Tidak juga tepat, tetapi sekiranya tetap ada dalam jalur itu. "Mengapa" adalah pertanyaan yg selalu berdengung tatkala aku membuang banyak peluru tanpa bermaksud menembak target, namun sebaliknya justru target yg mengincarku balik. Akhirnya aku hanya berlari dan berharap ada bantuan. Sekilas terlihat bodoh (atau memang bodoh) saat diriku menjadikkan semua terlihat mudah. Congkak, ceroboh semuanya ada dlm tindakanku. Lantas apa yg harus ku lakukan selanjutnya pun buram. Aku tetap harus menembak sasaran, tetapi dengan apa? Doa? Ataukah hanya berlari tanpa tujuan? Tapi kemana? Tidak! Sebagai seorang manusia yang sadar pada-dirinya, aku tetap harus membuat sebuah rencana agar aku tdk mati konyol. Aku hrs berdiri tegap menantang kebodohan dan kecongkakan ku sendiri. Aku harus melawan waktu yg kian hari menipis, bukan lagi saatnya bertanya "mengapa?" bukan lagi merendukan nasib pada waktu. Membangun jalan tdklah mudah, tetapi lebih sulit lagi membuat orang percaya bahwa jalan itu ada dan baik. Biarlah "mengapa?" tetap menjadi misteri ilahi yg walaupun kadang aku membencinya, tetapi aku hrs mengingatnya. Wahai, kalian yg dsna akupun berharap kita saling menampar pipi kita masing2.

Seharum Sunyi

Kata-kata pertama yang terpikir saat ini ialah Sunyi. Sunyi sering terkatakan sama seperti sepi. Dalam pengertian linguistik jelas kedua hal tsb jauh berbeda. Sepi adlh kondisi menarik diri dari keriuhan sdgkan sunyi adalah sebuah situasi ketersendirian yg menciptakan dirinya sendiri. Jika dalam mood yg jelek, setiap tempat yg riuh pun tampak sunyi. Malam dikatakan sunyi karena dalam hal apapun malam adalah lambang kesunyian, sekalipun meledak suar meriam. Dalam hal ini, aku merasa sunyi ditengah keramaian kota. Semua tampak datar, sama saja. Tak ada yg berbeda, namun tak ada yg sama pula. Aku terperangkap dalam dunia mitologi yg kuciptakan sendiri dimana peranku sebagai dewa merangkap manusia yg diciptakan. Konyol, tapi persepsiku akan kisah ini kian hari tak terbangunkan lagi mungkin karena kesunyian yang terlempar entah darimana ke dalam hidupku. Aku berusaha (mungkin) utk acuh, sayang sekali tdk terlalu keras usahaku. Hanya menghasilkan fantasi-fantasi lain yang kian hari menggerogoti seluruh kenyataan. Keampuhan kesadaranku menurun, aku merasa seolah terbang tanpa sayap tapi tak meninggalkan daratan. Kondisi ini membunuh kenyataan yg ada dan yg hanya bisa kulakukan adalah menunggu walaupun itu bukan langkah yg tepat sekiranya untuk beberapa saat ini adalh langkah yg baik. Aku mengharapkan dapat meriuhkan lagi entitas hidupku, tdk lantas menjadi manusia tanpa daya tawar hidup. Aku pengontrol imaji, aku sang dewa atas jalan hidupku, aku pun manusia dalam perjalanan ini. Semuanya tergantung diriku. Sadarlah wahai kau laki-laki tak berguna. Buat dirimu berguna dengan yg ada padamu. Biarlah dunia menceritakanmu sebagai keriuhan.

Sunday, 26 June 2016

Makna Kata

Sebelum terbangun dari tidur dogmatis, kata hanyalah kuanggap sebuah pesan, kode, sandi bagi kalangan. Kata hanya media komunikasi antar sesama penutur bahasa. Kata hanyalah bagian kecil dari susunan kehidupan. Tak pernah pula kata kuanggap sebagai sebuah kedalaman. Setelah tersadar dan tertampar oleh realitas, baru lah sebuah kata menjelma menjadi permenungan. Bagai bunga tanpa daun, aku ternyata memiskinkan kehidupanku, tapi tak apa, toh semuanya diajari dengan penuh sabar oleh waktu. Kata bukanlah sebuah waktu tapi dapat menjelaskan waktu, kata bukan pula nafas tapi tetap dapat menjaga nafas dalam tubuh, kata bukanlah Tuhan tetapi mampu mengenalkan kita pada Tuhan, kata tidak mengandung bom atom tapi tanpa meledakkan semesta. sebegitu kuat dan pentingnya setiap kata yang terolah dalam semesta sehingga apapun yang kata yang beredar dapat mengendalikan fungsi semesta. Kata pun berkembang dan lahir dalam waktu, ia dimengerti secara kontekstual namun tetap sebuah tata universal. Kata lahir karena kebutuhan tapi tak pernah mati. Ia kekal begitu terucap dan ia tak me-waktu. Kata, keajaiban atau hanya sebuaah kesalahan? Tata atau sebuah cara?

Takzim

Tuesday, 14 June 2016

Membunuh Jujur


Jujur? siapa itu? familiar sih tapi lupa. aku nampaknya kenal tapi hingga saat ini aku masih merasa asing dan risih jika ia disebutkan. Jujur? mengapa ia harus ada? apakah ia sebegitu penting hingga selalu dibicarak setiap orang dan menjadi megabintang bagi setiap insan yang terbangun dari kokohnya melodi dunia? apakah ia begitu mempesona bagi beberapa kalangan? banyak yang membencinya juga tetapi masih ada yang tetap menjadi pendukungnya walaupun mengikutinya ialah penuh dengan resiko. Mengapa begitu banyak yang meresikokan dirinya karena membelamu, wahai jujur? Mengapa dunia dikatakan dapat menjadi "dunia" jika semua mengikuti derapmu? Aku sendiri tidak berada tau harus menjadi pendukung yang mana. Menjadi pengikutmu sama saja dengan bunuh diri, ya! Nampaknya demikian. Di lain pihak, jika menolakmu maka eksistensiku sebagai manusia tergerus habis. Aku akui kau memang sebuah bom waktu yang kapan dan dimana saja dapat meledak dan membunuh ratusan bahkan jutaan manusia yang licik. Semua orang yang membencimu menjadikan mu target untuk lalu dibunuh tetapi kau tetap saja ada dan berjuang. Mungkinkah ini yang dikatakan semangat? Aku akan berusaha mengenalmu lebih dalam, jujur. Aku belum mengenalmu dekat tapi sudah sedikit menjadi pendukungmu sama seperti aku belum mengenal Kant tetapi sudah sangat mencintainya. Kapan-kapan datanglah berkunjung dalam setiap keresahanku atau kau boleh datang di saat aku sedang bertarung dengan cecunguk yang mengatasnamakanmu dengan kejujuran yang imitasi dan menduplikasimu seolah kebenaran adalah permainan kata. Aku menunggumu di balai sadarku.

Friday, 10 June 2016

Aku dan Cinta


Beberapa hari lalu, aku membaca sebuah karya puitis dan terperangah. Bukan karena mewahnya kata ataupun indahnya alunan kata bermain seolah tak ada lagi ada invasi dari kata yang lain. Puisi itu pun menceritakan tentang cinta. Aku sebagai pelaku cinta pun merasakan ketir ketika membaca sebait puisi tersebut. beginilah bunyinya:

"Bila aku mencintai lautan, aku akan tersapu ombak.
Bila aku mencintai api, aku akan terjilat dan terbakar.
Bila aku mencintai angin, aku akan terbang dan hilang seperti debu.
Bila aku mencintai debu, aku akan tinggal dan sabar dalam kenangan.
Bila aku mencintai hujan, aku harus menjadi awan kelabu.
Bila aku mencintai awan, aku harus seluas cakrawala.
Bila aku mencintai cakrawala, aku harus menapaki batas.
Bila aku mencintai horizon, aku akan seluas imajinasi.
Bila aku mencintai malam, aku harus terkurung dalam gelap.
Bila aku mencintai gelap, aku harus melawan cahaya.
Bila aku mencintai cahaya, aku harus lebur pada titik putih.
Tapi bila aku mencintaimu, cukup AKU menjelma menjadi Tuhan".

Sentuhan kata yang beredar dalam puisi ini memberikan makna yang tak hanya dalam tetapi juga segar. seperti yang dikatakan Erich Fromm, cinta selalu dipandang dari sisi pengertian, bahwa cinta itu saling mengasihi, cinta itu saling mengerti, cinta itu bla..bla..bla.. Semakin didefinisikan cinta menjadi absurd. Cinta adalah memberi tak harap kembali. Cinta tak perlu diberi bumbu karena ia adalah bumbu. Definisi cinta semakin rancuh ketika kita mencoba mengulitinya, karena cinta adalah cinta. mencintailah dengan tanpa alasan.

Selamat bercinta

Wednesday, 8 June 2016

Ekspetasi dan Realita

 Ekspetasi dan Realita

Sejauh ini, terasa baik. bukan sebuah kebaruan seperti yang diharapkan. ternyata benar, ekspektasi dan realitas selalu saling memunggungi. bukan tak bersahabat hanya mereka masing-masing memiliki sudut pandang. Manusia selalu berekspetasi manakala datang sejumput harapan dan sering dibutakan oleh ekspetasi walaupun pada dasarnya ekspetasi ialah bibit bagi pengharapan. walaupun hasilnnya selau tak sama dengan yg diharapkan, di sinilah letak kata syukur.
Ekspetasi adalah bibit pengharapan sedangkan realitas adalah sebuah ungkapan syukur. Sebagai sebuah entitas semesta, yang kian hari semakin kompleks dengan berkembangnya hara teknologi begitu pula moralitas. Manusia selalu jatuh pada lubang yang sama, sekalipun berpengharapan tetapi tak menikmati syukur. Syukur bukanlah lubang jarum yg sulit dilewati, ia menyediakan jalan nir-kepentingan. Syukur juga bukan serta-merta dikaitkan dengan hal-hal religius. syukur merupakan reintospeksi, syukur merupakan penjaga tapak agar tetap menapak pada kemanusiaan. Dengan bersyukur kita menancapkan eksistensi. Syukur tidak selalu memiliki alamat, tidak ada tuntutan dalam mensyukuri apapun, kita hanya bersyukur karena harapan masih ada walau tak seperti yang diinginkan. 

Berharaplah dan Bersyukurlah