Wednesday, 8 June 2016

Ekspetasi dan Realita

 Ekspetasi dan Realita

Sejauh ini, terasa baik. bukan sebuah kebaruan seperti yang diharapkan. ternyata benar, ekspektasi dan realitas selalu saling memunggungi. bukan tak bersahabat hanya mereka masing-masing memiliki sudut pandang. Manusia selalu berekspetasi manakala datang sejumput harapan dan sering dibutakan oleh ekspetasi walaupun pada dasarnya ekspetasi ialah bibit bagi pengharapan. walaupun hasilnnya selau tak sama dengan yg diharapkan, di sinilah letak kata syukur.
Ekspetasi adalah bibit pengharapan sedangkan realitas adalah sebuah ungkapan syukur. Sebagai sebuah entitas semesta, yang kian hari semakin kompleks dengan berkembangnya hara teknologi begitu pula moralitas. Manusia selalu jatuh pada lubang yang sama, sekalipun berpengharapan tetapi tak menikmati syukur. Syukur bukanlah lubang jarum yg sulit dilewati, ia menyediakan jalan nir-kepentingan. Syukur juga bukan serta-merta dikaitkan dengan hal-hal religius. syukur merupakan reintospeksi, syukur merupakan penjaga tapak agar tetap menapak pada kemanusiaan. Dengan bersyukur kita menancapkan eksistensi. Syukur tidak selalu memiliki alamat, tidak ada tuntutan dalam mensyukuri apapun, kita hanya bersyukur karena harapan masih ada walau tak seperti yang diinginkan. 

Berharaplah dan Bersyukurlah

No comments:

Post a Comment