Friday, 10 June 2016

Aku dan Cinta


Beberapa hari lalu, aku membaca sebuah karya puitis dan terperangah. Bukan karena mewahnya kata ataupun indahnya alunan kata bermain seolah tak ada lagi ada invasi dari kata yang lain. Puisi itu pun menceritakan tentang cinta. Aku sebagai pelaku cinta pun merasakan ketir ketika membaca sebait puisi tersebut. beginilah bunyinya:

"Bila aku mencintai lautan, aku akan tersapu ombak.
Bila aku mencintai api, aku akan terjilat dan terbakar.
Bila aku mencintai angin, aku akan terbang dan hilang seperti debu.
Bila aku mencintai debu, aku akan tinggal dan sabar dalam kenangan.
Bila aku mencintai hujan, aku harus menjadi awan kelabu.
Bila aku mencintai awan, aku harus seluas cakrawala.
Bila aku mencintai cakrawala, aku harus menapaki batas.
Bila aku mencintai horizon, aku akan seluas imajinasi.
Bila aku mencintai malam, aku harus terkurung dalam gelap.
Bila aku mencintai gelap, aku harus melawan cahaya.
Bila aku mencintai cahaya, aku harus lebur pada titik putih.
Tapi bila aku mencintaimu, cukup AKU menjelma menjadi Tuhan".

Sentuhan kata yang beredar dalam puisi ini memberikan makna yang tak hanya dalam tetapi juga segar. seperti yang dikatakan Erich Fromm, cinta selalu dipandang dari sisi pengertian, bahwa cinta itu saling mengasihi, cinta itu saling mengerti, cinta itu bla..bla..bla.. Semakin didefinisikan cinta menjadi absurd. Cinta adalah memberi tak harap kembali. Cinta tak perlu diberi bumbu karena ia adalah bumbu. Definisi cinta semakin rancuh ketika kita mencoba mengulitinya, karena cinta adalah cinta. mencintailah dengan tanpa alasan.

Selamat bercinta

No comments:

Post a Comment