Kurang lebih 4 tahun lalu pernah ada bedah buku yang temanya seperti judul di atas. Cinta: Takdir atau Pilihan? Aku lalu mengisahkan sebuah wisata pengalamanku. Toh, tak semuanya sama sehingga jawabannya pasti pun berbeda bahkan mungkin tdk memilih di antara keduanya. Atas pertimbangan itulah, aku lebih memilih pengalaman pribadi yang sebisa mgkn menguliti kejujuran, namun utk menghindari kesalahpahaman, sebaiknya tanpa nama dan tetap pada jalur reintrospeksi. Aku menjauhkan diri bukan tak percaya dengan mengesampingkan topik tentang cinta Tuhan kpd umatnya atau orangtua kpd anak, karena itu telah kita yakini bersama. Centralisasi cerita ini pada cinta dua org yang berbeda.
Sebagai manusia yg terlahir dari cinta, pastilah pergumulan akan hal ini tak pernah habis seperti memakan sebatang coklat. Ia akan menemani perjalanan kehidupan sepanjang nafas masih betah. Salah satu problematika cinta (hampir) adalah pelaku cinta bukan pada cinta itu sendiri. Apakah dengan menikah, sdh menjadi sebuah cinta? Belum. Dengan memiliki anak lantas telah mencinta? Belum. Lalu bagaimana agar dikatakan pelaku cinta. Cintailah tanpa sebab, cintailah tanpa karena. Cinta tdk memerlukan alasan, hanya tindakan. Bukan dgn tanpa alasan, ada istilah cinta itu buta karena memang itu adanya. Salah satu yg membuat aku sendiri merasa terhina sebab gaya mencintaiku ialah ketika membaca kisah cinta yg ada di china, ketika seorang pria dgn tetap tegar menjaga dan menikahi wanita yang mengindap kanker stadium akhir atau pada pria yg tetap menjaga dan menyayangi istrinya yg mengidap bipolar. Bagiku, hal demikian lah yang dapat dikatakan cinta. Tak menerima, hanya memberi.
Lantas, apakah sejak lahir kita telah "dituliskan" akan mencintai dan menikahi siapa? Atau kah kita akan menikahi siapa pun yang kita anggap tepat. Ambigu! Memilih atau dipilihkan? Semacam sebuah lelucon bagiku jika dikatakan memilih ataupun dipilih. Sebab dalam wisata pengalaman cinta, tak ada hanya takdir atau hanya memilih. Kedua hal nampaknya memegangku teguh. Sekian lama mengarungi semesta, bertemu dengan jutaan orang dan lalu menambatkan hati pada yg kukatakan tepat tdk pula berakhir baik, walau (mungkin) aku telah berusaha lakukan yg terbaik. Lalu aku beralih pada takdir. Apakah takdir yg menentukkan siapa yg bakal menemaniku mengarungi sisa nafasku? Aku pun percaya. Sekian lama setelah lama tak bersua. Akhirnya bertemu lagi. Aku punya kesempatan utk tdk memilihnya, tapi ternyata berkebalikkan. Terpisah ribuan KM lalu bertemu kembali dan memilihnya merupakan sebuah anugerah. Cinta itu dipertemukan lalu ada pilihan, go ahead or ignore!
Peranan takdir dan pilihan dalam cinta sangat besar. Sangat mungkin jika kita dipertemukan tapi tdk memberi kesempatan pada pilihan "ya". Ada pula kita memilih saja tanpa ada keyakinan takdir berperan layaknya membeli kucing di dalam karung. Bagiku, Cinta adalah Memilih yang ditakdirkan.
Love is love, just be a lover.
Mencari keindahan dalam setiap kata. Menyelami setiap desah nafas. mensyukuri anugerah yang tak terbatas
Wednesday, 6 July 2016
Cinta : Takdir atau Pilihan?
Labels:
Love
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment